Tak kenal maka tak sayang, Maria dalam karya Keselamatan dan Gereja Semesta
Perawan Maria yang terberkati adalah bunda Yesus Kristus. Berbeda dengan gugatan beberapa orang, Gereja Katolik tidak mengajarkan dan tidak pernah mengajarkan bahwa Maria adalah Allah. Hal tersebut adalah ajaran sesat (bidah). Maria hanyalah ciptaan, tetapi ia adalah manusia paling mengagumkan yang pernah diciptakan Allah. Mohon perhatikan bukti Kitab Suci berikut untuk ajaran-ajaran tentang Maria, dan mengapa sangatlah diperlukan untuk mengerti peran dan pentingnya Maria.
Untuk mengerti Kitab Suci dan ajarannya tentang Maria (bunda Yesus Kristus), kita harus mengerti “tipe” di dalam Kitab Suci.
Tipe = sebuah kejadian, orang, atau institusi yang benar di dalam Perjanjian Lama yang menandakan atau memprediksikan sesuatu di Perjanjian Baru.
KITAB SUCI MENGAJARKAN BAHWA ADAM, MANUSIA PERTAMA, ADALAH SUATU TIPE YESUS KRISTUS
Yesus Kristus adalah Allah sejati dan manusia sejati. Adam hanyalah seorang manusia, manusia pertama. Bagaimanapun, Kitab Suci berkata bahwa Adam adalah suatu tipe yang menandakan seseorang yang akan datang, yaitu Yesus Kristus.
Roma 5:14 – “Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran [tipe] Dia yang akan datang [Yesus].”
Bagaimanakah Adam itu suatu tipe Yesus? Hal ini mungkin disimpulkan dengan paling baik di dalam ayat ini:
Roma 5:19 – “Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.”
Adam menenggelamkan dunia di dalam dosa; Kristus datang untuk menebus dunia dari dosa Adam. Adam berdosa lewat ketidaktaatannya pada saat terdapat pohon pengetahuan baik dan jahat; Kristus menebus dunia lewat ketaatan dan pengorbanan-Nya di kayu Salib. Itulah mengapa Kitab Suci berkata bahwa Kristus adalah Adam yang baru atau yang kedua atau yang terakhir. Ia datang untuk membatalkan apa yang telah dilakukan Adam. Ia telah menjadi kepala dari umat manusia yang baru dan yang ditebus, yang hidup secara supernatural di dalam Kristus, sedangkan Adam, manusia pertama, adalah kepala dari umat manusia yang jatuh ke dalam dosa.
KITAB SUCI MENGAJARKAN BAHWA YESUS KRISTUS ADALAH ADAM KEDUA
1 Korintus 15:45 – “Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.”
Terdapat banyak sekali tipe-tipe Kitab Suci. Ingat bahwa ini semua adalah kejadian, manusia, dan hal yang nyata yang menggambarkan sesuatu yang akan datang kemudian. Berikut adalah beberapa contoh:
1 Kor. 10:1-2 – Kitab Suci mengajarkan bahwa Penyeberangan Laut Merah (Keluaran 14) menggambarkan pembaptisan.
1 Petrus 3:19-21 – Kitab Suci mengajarkan bahwa Bahtera Nuh dan Banjir Bandang menggambarkan keselamatan lewat pembaptisan dan Gereja.
1 Kor. 5:7 – Kitab Suci mengajarkan bahwa Anak Domba Paskah, yang telah dikurbankan (Keluaran 12), menggambarkan Kristus, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29).
terlibat dengan kejadian-kejadian yang menuntun kepada Penebusan. Ialah Maria, bunda Yesus Kristus. Marialah Hawa yang baru.
Terdapat banyak perbandingan yang jelas di dalam Kitab Suci antara Hawa dan Maria. Poin-poin berikut menunjukkan bahwa Maria adalah Hawa yang baru, sebagaimana Kristus adalah Adam yang baru.
HAWA BERKOMUNIKASI DENGAN, PERCAYA, DAN MENAATI SEORANG MALAIKAT SESAT (ULAR) –MARIA BERKOMUNIKASI DENGAN, PERCAYA, DAN MENAATI SEORANG MALAIKAT BAIK (GABRIEL)
Kejadian 3:4-6- ”Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati… ia [Hawa] mengambil dari buahnya dan dimakannya…”
Perbandingan dengan Hawa, ibu semua yang hidup sudahlah jelas. Perbedaannya adalah Maria adalah bunda dari Kehidupan yang secara tak terbatas lebih besar dari eksistensi manusia. Mereka yang hidup dan mati di dalam Putranya memiliki jalan kepada kehidupan kekal di dalam-Nya dan menjadi ciptaan baru.
2 Korintus 5:17- “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
Pemenuhan (Maria sebagai ibu semua yang hidup), sekali lagi, lebih besar dari tipe (Hawa sebagai ibu semua yang hidup).
HAWA DICIPTAKAN TANPA DOSA –
HAWA BARU, MARIA, JUGA HARUS DICIPTAKAN TANPA DOSA
(DIKANDUNG TANPA NODA)
Kita telah melihat bahwa Kitab Suci menunjukkan bahwa Maria adalah Hawa yang baru. Maka timbul pertanyaan: di dalam keadaan seperti apa jiwa Hawa diciptakan? Hawa diciptakan di Kejadian 2 tanpa dosa. Seluruh penciptaan sempurna adanya sampai jatuhnya manusia ke dalam dosa asal. Adam dan Hawa diciptakan di dalam keadaan tanpa dosa. Mereka tidak kehilangan kesempurnaan asal mereka, di mana mereka bebas dari dosa, sampai dosa asal terjadi di Kejadian 3.
Jika Allah menciptakan wanita pertama (Hawa pertama) tanpa dosa, tentu saja Ia dapat menciptakan Hawa yang kedua (yang lebih agung), yaitu Perawan Maria yang Terberkati, tanpa dosa. Dan itulah yang Ia benar-benar lakukan. Ia harus melakukannya menurut ukuran dan keadilan sebab Maria akan menjadi anggota pertama dari para manusia yang ditebus.
ARTI DIKANDUNG TANPA NODA
Paus Pius IX, Ineffabilis Deus, 8 Des. 1854- “Kami mendeklarasikan, mengucapkan, dan mendefinisikan bahwa doktrin yang menyatakan bahwa Perawan Maria yang Terberkati, pada saat pertama ia dikandung, oleh suatu rahmat dan hak istimewa dari Allah yang Mahakuasa, dalam pertimbangan terhadap jasa-jasa Yesus Kristus, Penyelamat umat manusia, dijaga bebas dari segala noda dosa asal, adalah doktrin yang diwahyukan oleh Allah, dan oleh karena itu, doktrin ini harus dipercaya secara teguh dan senantiasa oleh semua umat beriman.”
Beberapa orang berpikir secara salah bahwa dogma Dikandung Tanpa Noda merujuk kepada dikandungnya Yesus secara mukjizat di dalam rahim Perawan Maria. Hal ini salah. Memang, Yesus dikandung tanpa dosa di dalam rahim Maria, tetapi dogma Dikandung Tanpa Noda berhubungan dengan dikandungnya Maria di dalam rahim ibunya. Dari saat pertama Maria diciptakan, ia dilindungi dari segala noda dosa asal, yang diwarisi seluruh umat manusia (kecuali Yesus).
Allah melindunginya dari dosa lewat jasa-jasa yang menyelamatkan dari Tuhan Yesus. Hal ini dilakukan untuk Maria karena ia harus menjadi bejana yang murni dan terberkati yang akan mengandung Allah yang Mahasuci. Untuk dapat mengandung kesucian yang tak terbatas, Maria haruslah suci dari waktu pertama ia diciptakan.
YESUS MENYELAMATKAN MARIA DENGAN CARA YANG LEBIH AGUNG
Lalu, jika Maria dilindungi dari noda dosa asal, bukankah itu berarti ia tidak memiliki Juru Selamat? Tidak. Maria menjawabnya sendiri.
Lukas 1:46-47- “Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.”
Tuhan menyelamatkan Maria dengan mencegahnya untuk mewarisi dosa asal. Misalkan, seorang lelaki jatuh ke dalam lubang yang dalam di dalam hutan, tetapi ia ditarik ke luar oleh temannya. Benar saja bahwa temannya menyelamatkannya. Sekarang, misalkan seorang lelaki melihat seorang wanita berjalan menuju lubang dalam tersebut, dan menangkapnya segera sebelum ia jatuh. Ia mencegahnya jatuh dari awal ke dalam lubang, supaya ia tidak terluka atau menjadi kotor sama sekali. Apakah ia menyelamatkan wanita itu? Tentunya. Ia menyelamatkannya dengan cara yang lebih agung, dengan mencegahnya jatuh ke dalam lubang dan menderita akibat yang berbahaya.
Itulah cara Allah menyelamatkan Maria. Yesus adalah Juru Selamatnya dalam cara yang lebih besar, dengan cara mencegahnya sama sekali mewarisi dosa asal, dan dengan menjaganya dari dosa sepanjang hidupnya. Ia melakukannya untuk Maria, karena peranannya yang unik. Ketidakberdosaan Maria ditunjukkan oleh berbagai tipe dalam Kitab Suci.
Beberapa orang mengungkapkan ketidakpercayaan kepada ide bahwa Allah akan menciptakan seseorang bebas dari dosa. Mereka lupa bahwa Allah menciptakan lelaki dan wanita pertama tanpa dosa.
KITAB SUCI MENGAJARKAN BAHWA MARIA ADALAH TABUT PERJANJIAN BARU
Sekarang kita akan melihat bahwa Kitab Suci benar-benar memandang Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru. Kitab Suci memandang Maria sebagai paralel dari Tabut Perjanjian Lama. Maria adalah pemenuhan yang baru dan yang lebih agung daripada apa yang digambarkan oleh Tabut Perjanjian Lama. Informasi ini adalah salah satu fakta yang paling penting tentang peranan Maria yang besar.
Karena Maria membawa dan melambangkan kehadiran Allah, Tabut Perjanjian Lama adalah benda yang tersuci dan terkuat di Bumi, selain dari Allah sendiri. Tabut Perjanjian adalah peti suci yang menyimpan loh-loh batu dari Sepuluh Perintah Allah (Ulangan 10 :5). Tabut Perjanjian juga membawa dan melambangkan kehadiran rohani Allah di Bumi. Tempat Allah berbicara kepada Musa adalah di antara 2 kerubim yang ada di Tabut Perjanjian.
Bilangan 7:8-9- “Apabila Musa masuk ke dalam Kemah Pertemuan untuk berbicara dengan Dia, maka ia mendengar suara yang berfirman kepadanya dari atas tutup pendamaian, yang di atas tabut hukum Allah, dari antara kedua kerubim itu; demikianlah Ia berfirman kepadanya.”
Keluaran 25:21-22- “Haruslah kauletakkan tutup pendamaian itu di atas tabut dan dalam tabut itu engkau harus menaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu. Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerubim yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.”
Marilah melihat bagaimana Kitab Suci menunjuk kepada Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru.
Tabut Perjanjian Lama
Perawan Maria
Membawa firman Allah yang tertulis (Ul. 10:5)
Membawa firman Allah yang telah menjadi daging, Yesus (Yoh 1:1)
Yesus Kristus adalah Firman Allah yang telah menjadi daging (Yohanes 1:1). Maka, sebagaimana Tabut Perjanjian Lama membawa firman Allah yang tertulis, Maria (yang adalah Tabut Perjanjian Baru) membawa firman Allah yang telah menjadi daging.
Wahyu 19:13- “Dan Ia [Yesus] memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman Allah.”
Tabut Perjanjian Lama
Perawan Maria
“Dihinggapi” kuasa dan kehadiran Allah (Keluaran 40:34-35)
“Dihinggapi” kuasa dan kehadiran Yang Mahatinggi (Lukas 1:35)
Tabernakel dibuat untuk menyimpan Tabut suci (Keluaran 40:2-3). Sewaktu Allah turun di atas tabernakel dan Tabut Perjanjian untuk berbicara kepada Musa, kita membaca di Keluaran 40:34-35 bahwa awan kemuliaan Allah atau kehadiran-Nya yang kelihatan (yang disebut “Shekinah”) “menghinggapinya/menaunginya”. Istilah yang langka yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana kehadiran unik Allah akan “menghinggapi/menaungi” Tabut Perjanjian ini adalah episkiasei di dalam terjemahan bahasa Yunani dari Perjanjian Lama.
Keluaran 40:34-35-“Lalu awan itu menutupi Kemah Pertemuan, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci, sehingga Musa tidak dapat memasuki Kemah Pertemuan, sebab awan itu hinggap di atas kemah itu, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci.”
Kata yang sama “episkiasei” digunakan di bahasa Yunani di dalam Perjanjian Baru untuk menjelaskan bagaimana kehadiran Allah akan “menghinggapi” Perawan Maria. Kitab Suci menggunakan bahasa ini hanya untuk Tabut Perjanjian dan Maria.
Lukas 1:35- Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.”
Hal ini berarti bahwa kehadiran Allah menaungi Maria dan turun di atasnya – karena ia adalah Tabut Perjanjian Baru – seperti halnya Ia menghinggapi Tabut Perjanjian Lama. Ini menunjukkan bahwa walaupun Maria hanyalah ciptaan dan secara tidak terbatas lebih kecil dari Allah, ia adalah Tabut Perjanjian yang baru. Karena ini, ia memiliki hubungan yang unik dengan Tuhan, juga kekudusan, penyucian, dan kuasa yang unik.
BUKTI YANG MENAKJUBKAN DARI 2 SAMUEL DAN LUKAS 1 BAHWA MARIA ADALAH TABUT PERJANJIAN BARU
Pertimbangkanlah paralel yang menakjubkan yang diberikan Kitab Suci antara apa yang terjadi pada Tabut Perjanjian Lama di 2 Samuel 6 (2 Raja-Raja 6 di Kitab Suci Katolik Douay-Rheims – terjemahan bahasa Inggris dari Alkitab Latin Vulgata), dan yang terjadi kepada Perawan Maria yang Terberkati, yang adalah Tabut Perjanjian Baru, di dalam Lukas bab 1. 2 Samuel 6 adalah cerita paling lengkap di dalam Kitab Suci tentang Tabut Perjanjian Lama. Sedangkan Lukas 1 adalah cerita paling lengkap dalam Kitab Suci tentang Perawan Maria yang Terberkati.
Tabut Perjanjian Lama
Perawan Maria
2 Samuel 6:9- “Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: "Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?"
Lukas 1:43- “[Elisabet berkata]: Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”
Daud berkata: “Bagaimana Tabut Tuhan itu dapat sampai kepadaku?” sedangkan Elisabet bertanya bagaimanakah “ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Elisabet mengatakan hal yang sama kepada Maria seperti yang Daud katakan tentang Tabut tersebut karena Maria adalah Tabut Perjanjian Baru. Hanya terdapat satu perbedaan dalam kedua pernyataan, yaitu bahwa “ibu” digunakan di tempat “Tabut” digunakan. Kitab Suci mengatakan kepada kita bahwa ibu Tuhan = Tabut Perjanjian. Ini kemudian didukung oleh cerita-cerita berikut.
Daud meloncat-loncat di hadapan Tabut Perjanjian
Anak Elisabet melonjak di dalam kehadiran Maria
2 Samuel 6:16- “Ketika tabut TUHAN itu masuk ke kota Daud, maka Mikhal, anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud meloncat-loncat serta menari-nari di hadapan TUHAN…”
Lukas 1:41-44- “Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus… Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.”
Daud meloncat-loncat di hadapan Tabut Perjanjian, seperti halnya anak di dalam rahim Elisabet melonjak di depan Maria (Tabut Perjanjian Baru).
Tabut Perjanjian tinggal selama tiga bulan
Maria tinggal dengan Elisabet selama tiga bulan
2 Samuel 6:11- “Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya.”
Lukas 1:56-57- “Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki.”
Di 2 Samuel 6, kita membaca bahwa Tabut Perjanjian tinggal bersama Obed-Edom orang Gat selama tiga bulan. Hal ini persis seperti di yang diceritakan Lukas 1, di mana Maria (Tabut Perjanjian Baru) tinggal bersama Elisabet selama tiga bulan.
2 Samuel 6:11 juga menyebutkan bahwa Allah memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya sewaktu Tabut Perjanjian hadir. “Berkat” di dalam Kitab Suci sering merujuk kepada keturunan.
Dalam hal ini, kita juga melihat paralel pada Lukas 1 dan Maria. Karena Lukas 1:57 mengatakan bahwa setelah Maria tinggal bersama Elisabet, Tuhan memberkatinya dan seisi rumahnya dengan kelahiran seorang anak, Yohanes Pembaptis.
Daud berjalan untuk mengangkut Tabut Perjanjian
Hal ini terjadi sewaktu Maria berangkat ke Yehuda
2 Samuel 6:2- “Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dari* Baale-Yehuda dengan seluruh rakyat yang menyertainya, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas kerubim.”
Lukas 1:39-40- “Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.”
Terjemahan Lama, dari mana Terjemahan Baru diturunkan menggunakan “ke”. Di sini, Terjemahan Baru, seperti banyak terjemahan lain memiliki kesalahan teks di mana seharusnya “ke” digunakan karena Baale-Yehuda adalah tempat tujuan Daud untuk meletakkan Tabut Perjanjian. Baale-Yehuda adalah nama lain dari Kirjath-Jearim seperti disebutkan di Yosua 15:9 di mana Tabut Perjanjian tinggal selama dua puluh tahun lamanya seperti disebutkan di 1 Samuel 7:2.}
Seperti yang kita baca di sini, terdapat paralel yang mengagumkan sewaktu Daud berjalan menuju kota berbukit di Yehuda (Kota Baal di Yehuda) dan sewaktu Maria, sang Tabut Perjanjian Baru pergi menuju kota berbukit di Yehuda (Lukas 1:39).
Kitab Wahyu juga menunjukkan bahwa Maria adalah Tabut Perjanjian Baru
Wahyu 11:19, 12-1- “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. [12:1] Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.”
[19/1 10.16] RB Harsolaksono: Kitab Suci tidak ditulis dengan adanya bab atau ayat. Barulah pada abad ke-12 Kitab Suci terbagi dalam bab dan ayat. Maka, penulis Wahyu, St. Yohanes Rasul, menulis bagian awal dari bab 12 tanpa pemisah dari bagian akhir bab 11. Pada akhir bab 11, kita membaca bahwa Tabut Perjanjian Yesus terlihat di Surga. Ayat berikutnya adalah Wahyu 12:1. Maka, kata-kata yang mengakhiri bab 11 langsung mengalir ke kata-kata yang memulai bab 12, tanpa ada pemisah.
Hal ini berarti bahwa penampakan Tabut Perjanjian Yesus pada akhir bab 11 – “kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu” (Why. 11:19) – langsung dijelaskan oleh penampakan “perempuan” berselubungkan matahari, yang memulai bab 12, langsung pada ayat berikutnya (Why. 12:1). Ini menunjukkan bahwa “perempuan” yang berselubungkan matahari yang mengandung Allah di dalam rahimnya (Perawan Maria), adalah Tabut Perjanjian Baru.
Tabut Perjanjian menyimpan manna dari padang pasir
Maria menyimpan manna dari Surga, Yesus
Ibrani 9:4- “…tabut perjanjian, yang seluruhnya disalut dengan emas; di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian.”
Yohanes 6:48-51- “Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga... dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”
Tabut Perjanjian menyimpan manna dari padang pasir
Maria menyimpan manna dari Surga, Yesus
Ibrani 9:4- “…tabut perjanjian, yang seluruhnya disalut dengan emas; di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian.”
Yohanes 6:48-51- “Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga... dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”
Ibrani 3:1- Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus.
Marilah juga melihat Ibrani 6:20, Ibrani 9:11, dan banyak ayat lainnya untuk lebih banyak bukti bahwa Yesus adalah imam besar yang sejati. Kesimpulan yang tak terelakkan dari hal ini adalah tongkat Harun yang ditempatkan di dalam Tabut Perjanjian menggambarkan Yesus Kristus, imam besar yang benar, yang ditempatkan di dalam Maria (Tabut Perjanjian Baru).
Sama sekali tidak dapat dipungkiri bahwa Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Maria adalah Tabut Perjanjian Baru. Bukti ini tidak dapat dibantah.
KARENA MARIA ADALAH TABUT PERJANJIAN BARU, HAL INI BERARTI BAHWA IA ADALAH BENDA YANG PALING SUCI DI MUKA BUMI SELAIN TUHAN YESUS
Tabut Perjanjian adalah benda yang paling suci di muka bumi di luar kehadiran Tuhan sendiri. Tabut Perjanjian tersimpan di dalam tabernakel, di dalam ruangan mahakudus. Kehadiran Tabut Perjanjianlah yang membuat ruangan mahakudus sangat suci.
2 Tawarikh 35:3- "….Tempatkanlah tabut kudus itu di dalam rumah yang telah didirikan Salomo bin Daud, raja Israel. Tidak usah lagi kamu mengusungnya. Sekarang layanilah TUHAN, Allahmu, dan Israel, umat-Nya!”
Tabut Perjanjian itu sangatlah suci sampai umat Tuhan yang mengikutinya harus menjaga jarak darinya dengan hormat.
Yosua 3:3-5- “….Segera sesudah kamu melihat tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, yang diangkat para imam, yang memang suku Lewi, maka kamu harus juga berangkat dari tempatmu dan mengikutinya--hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya…"
Orang-orang yang secara tidak pantas menyentuh Tabut Perjanjian meninggal.
2 Samuel 6:6-7- “…Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu.”
Orang-orang dari Bet-Semes meninggal karena mereka dengan lancang melihat ke dalam Tabut Perjanjian.
1 Samuel 6:19- “Dan Ia membunuh beberapa orang Bet-Semes, karena mereka melihat ke dalam tabut TUHAN; Ia membunuh tujuh puluh orang dari rakyat itu. Rakyat itu berkabung, karena TUHAN telah menghajar mereka dengan dahsyatnya...”
Kita melihat bagaimana Allah memandang suci benda yang dekat dengan kehadiran rohani-Nya.
KARENA MARIA ADALAH TABUT PERJANJIAN YANG BARU, HARUSLAH IA SUCI DAN DICIPTAKAN TANPA DOSA
Allah memberikan petunjuk yang spesifik untuk pembuatan Tabut Perjanjian. Ia memerintahkan agar Tabut Perjanjian dibuat dari emas yang paling murni.
Keluaran 25:10-13, 24- "Haruslah mereka membuat tabut dari kayu penaga, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya. Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni; dari dalam dan dari luar engkau harus menyalutnya dan di atasnya harus kaubuat bingkai* emas sekelilingnya. Haruslah engkau menuang empat gelang emas untuk tabut itu dan pasanglah gelang itu pada keempat penjurunya, yaitu dua gelang pada rusuknya yang satu dan dua gelang pada rusuknya yang kedua. Engkau harus membuat kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas. Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni dan membuat bingkai* emas sekelilingnya…”
*{Bingkai dalam bahasa Ibrani di sini adalah זֵר “zer” yang juga berarti “cincin” atau “mahkota”. Kata ini digunakan kembali pada Keluaran 25:24 dan 25. Beberapa terjemahan lain menggunakan “mahkota”, termasuk King James Bible (terjemahan Protestan yang paling dihormati di negara-negara berbahasa Inggris) pada ayat 24 dan 25. Di Keluaran 25:11, Alkitab Katolik Douay-Rheims yang berbahasa Inggris dan diterjemahkan dari Alkitab Latin Vulgata menggunakan “mahkota” untuk kata ini.}
Hal yang menarik adalah Tabut Perjanjian bukan hanya harus disalut dengan emas di sekelilingnya, tetapi juga ada rujukan spesifik kepada “mahkota emas disekelilingnya”.
Tabut Perjanjian Lama bermahkotakan emas
Perawan Maria (Tabut Perjanjian yang baru) juga memiliki mahkota
Keluaran 25:11- “…di atasnya harus kaubuat bingkai** {mahkota} emas sekelilingnya.”
Wahyu 12:1- “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.”
Tabut Perjanjian Lama haruslah sempurna dan suci karena ia adalah takhta kehadiran Allah yang unik. Kesucian Allah tidak bisa dikotori oleh hubungan dengan suatu hal yang bercacat. Demikian pula, dan dalam derajat yang lebih tinggi, Perawan Maria, sebagai Tabut Perjanjian yang baru, yang membawa Yesus Kristus, harus dijadikan tanpa dosa dan dalam keadaan yang sempurna.
Bukan hanya ia menyimpan kehadiran rohani Allah, tetapi juga Yesus Kristus (Allah sendiri). Maria tidak hanya semata-mata menyimpan firman Allah, tetapi sang Firman Allah yang menjadi daging (Yohanes 1:1). Oleh karena itu, Maria haruslah sempurna. Ia haruslah bebas dari segala dosa. Ia haruslah tetap perawan dan tidak dijamah oleh lelaki.
Jika Tabut Perjanjian Lama, yang menyimpan loh batu perintah Allah dan dinaungi kehadiran rohani Allah, harus disalut dengan emas yang paling murni dan harus dibuat berdasarkan perintah yang paling spesifik dari Tuhan, betapa jauh lebih besarnya penciptaan Maria oleh Tuhan, Tabut Perjanjian Baru? Pemenuhan lebih besar dari tipenya. Maria, Tabut Perjanjian Baru haruslah dan memanglah lebih besar daripada Tabut Perjanjian Lama.
Seperti Tabut Perjanjian Lama, Maria juga harus memiliki kekuatan yang luar biasa untuk melawan Setan dan musuh-musuh Allah. Ia harus memiliki kekuatan yang unik untuk perantaraan kepada Tuhan, dengan menurunkan berkat-Nya dan dalam membantu umat Allah, seperti halnya Tabut Perjanjian Lama.
SEPERTI TABUT PERJANJIAN LAMA, MARIA MEMILIKI KEKUATAN PERANTARAAN YANG UNIK; IA MEMPUNYAI KEKUATAN YANG LUAR BIASA DALAM MELAWAN MUSUH-MUSUH ALLAH, MELAWAN SETAN DAN MEMBANTU UMAT ALLAH
Tabut Perjanjian Lama memiliki kekuatan yang luar biasa. Sewaktu Tabut Perjanjian Lama dicuri oleh orang-orang Filistin, hal-hal yang menakjubkan terjadi kepada berhala mereka, Dagon.
1 Samuel 5:1-5- “Sesudah orang Filistin merampas tabut Allah, maka mereka membawanya dari Eben-Haezer ke Asdod. Orang Filistin mengambil tabut Allah itu, dibawanya masuk ke kuil Dagon dan diletakkannya di sisi Dagon. Ketika orang-orang Asdod bangun pagi-pagi pada keesokan harinya, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN; lalu mereka mengambil Dagon dan mengembalikannya ke tempatnya. Tetapi ketika keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN, tetapi kepala Dagon dan kedua belah tangannya terpenggal dan terpelanting ke ambang pintu, hanya badan Dagon itu yang masih tinggal. Itulah sebabnya para imam Dagon dan semua orang yang masuk ke dalam kuil Dagon tidak menginjak ambang pintu rumah Dagon yang di Asdod, sampai hari ini.”
Orang-orang Filistin mulai dibinasakan karena mereka telah mengambil Tabut Perjanjian. Hal ini membuat mereka mengembalikan Tabut Perjanjian kepada musuh mereka, orang-orang Israel.
1 Samuel 5:7- “Ketika dilihat orang-orang Asdod, bahwa demikian halnya, berkatalah mereka: "Tabut Allah Israel tidak boleh tinggal pada kita, sebab tangan-Nya keras melawan kita dan melawan Dagon, allah kita."
Tabut Perjanjian menyebabkan ketakutan yang luar biasa kepada musuh-musuh Tuhan.
1 Samuel 5:10- “Lalu mereka mengantarkan tabut Allah itu ke Ekron. Tetapi sesampai tabut Allah itu di Ekron, berteriaklah orang Ekron itu, demikian: "Mereka memindahkan tabut Allah Israel itu kepada kita untuk mematikan kita dan bangsa kita."
Tabut Perjanjian bermukjizat. Tabut Perjanjian mengeringkan air sungai Yordan
Segera setelah jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa asal, Tuhan membuat nubuat ini.
Kejadian 3:14-15- “Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya…”[1]
Tuhan berkata bahwa akan ada permusuhan – pertengkaran, perpisahan, perpecahan antara Setan dan “perempuan ini.” Di dalam konteks yang sama, kita membaca tentang keturunan wanita tersebut, dan kemenangan akan diberikan lewat sang perempuan dan keturunannya. Di dalam Kitab Suci, anak-anak seorang lelaki dan keturunannya disebut sebagai benihnya. Keturunan (“benih”) dari sang perempuan, karena hal ini, adalah sesuatu yang unik. Ini merujuk kepada seorang anak yang datang dari seorang wanita sendiri. Tentu saja ini merujuk kepada kandungan perawan dan kelahiran dari rahim Perawan Maria yang Terberkati, bunda Yesus. “Benih” dari sang perempuan merujuk kepada Yesus Kristus.
Maka, perempuan ini yang dikatakan memiliki permusuhan dengan sang ular jelas-jelas adalah Maria, bunda Yesus Kristus. Perempuan tersebut bukanlah Hawa, yang menyerah kepada ular, melainkan Maria.
Allah berkata bahwa Ia akan mengadakan permusuhan antara ular dan perempuan. Hasilnya, Maria haruslah dijaga sama sekali dari dosa. Karena sewaktu seseorang berdosa, ia tidak bermusuhan dengan Setan, tetapi menyerah kepada Setan. Jalan satu-satunya bagi sang perempuan untuk memiliki permusuhan berbuyutan dengan ular adalah jika ia dilindungi dari dosa dan dari dosa Adam.
Fakta bahwa Maria adalah “perempuan” ini, dan karena itu ia bebas sama sekali dari pengaruh dosa dan Setan, adalah alasan Yesus memanggil Maria “perempuan” atau “wanita” di dalam Perjanjian Baru. Yesus tidak pernah memanggil ibu-Nya dengan panggilan lain selain “perempuan”. Banyak orang non-Katolik berpikir bahwa inilah cara Yesus untuk mengejek ibu-Nya dan mengecilkan peranannya; tidak – malah sebaliknya – Yesus mengidentifikasikan Maria sebagai “perempuan” {atau “wanita”} dari Kejadian 3:15.
Kejadian 3:15- “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya…”
Yohanes 2:3-5- Dan ketika anggur kurang, ibu YESUS berkata kepada-Nya, "Mereka tidak mempunyai anggur." YESUS berkata kepadanya, "Ada apa dengan-Ku dan engkau, hai wanita? Saat-Ku belum tiba! Ibu-Nya berkata kepada para pelayan itu, "Apa saja yang Dia katakan kepadamu, lakukanlah!" {Kitab Suci MILT 2008}
Dengan membaca secara singkat Yohanes 2:3-5, beberapa orang menyimpulkan bahwa Yesus menghardik ibu-Nya pada perjamuan di Kana. Tetapi, ini sebetulnya menonjolkan kekuatan perantaraan Maria kepada Yesus. Yesus berkata bahwa saat-Nya belum tiba; artinya, belum tiba waktunya untuk Yesus untuk menunjukkan kekuatan mukjizat-Nya. Rencana-Nya adalah untuk menunggu lebih lama. Bagaimanapun, berkat permohonan ibu-Nya, yang iba akan pasangan yang baru menikah, Yesus pun melakukan mukjizat pula. Ia mengerjakan mukjizat (pertama)-Nya ini karena permohonan ibu-Nya, walaupun saat-Nya "belum tiba." Ini adalah contoh yang sangat baik tentang bagaimana rahmat diperoleh dari Yesus lewat Maria – rahmat yang mungkin Ia tidak akan mau berikan dalam situasi lain.
JIWA MARIA MEMULIAKAN TUHAN, DAN YANG MAHAKUASA TELAH MELAKUKAN PERBUATAN-PERBUATAN BESAR KEPADANYA
Di Lukas 1, kita melihat sekelumit dari hak istimewa yang Tuhan telah limpahkan kepada Maria.
Lukas 1:46-50- Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.”
Kitab Suci berkata bahwa jiwa Maria memuliakan Tuhan; tetapi hal ini tidak mengecilkan-Nya. Maria tidak mengurangi Yesus, tetapi membawa orang-orang kepada Yesus. Tabut Perjanjian Lama memiliki arti kekuatan dan kehadiran Allah. Sewaktu Tabut Perjanjian Lama hadir di antara mereka, ia membuat mereka menjadi taat, memiliki harapan, dan menjadi cinta kepada Yang Maha Kuasa. Dengan cara yang mirip, tetapi lebih besar, Maria, Tabut Perjanjian yang baru membawa dan memusatkan kita dengan hebat di sekeliling Yesus Kristus. Semua yang dimiliki Maria dan segalanya akan Maria berasal dari fakta bahwa ia adalah ibu Yesus Kristus. Yesus telah melakukan hal-hal yang besar untuk Maria untuk melindungi-Nya dari dosa.
Orang juga harus memperhatikan sungguh-sungguh pada Lukas 1:48 di mana Maria bernubuat bahwa “semua keturunan akan menyebut” Maria “berbahagia” {kata Yunani untuk “berbahagia” adalah “μακαρίζω” dibaca “makarizó”, yang berarti “terberkati”}. Ini adalah nubuat tentang doa Katolik Salam Maria. Selama berabad-abad umat Katolik telah berdoa: “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah {terberkatilah} engkau di antara wanita, dan terpujilah {terberkatilah} buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.”
KITAB SUCI BERKATA BAHWA MARIA “PENUH RAHMAT”, YANG BERARTI TANPA DOSA
Lukas 1:27-31- “…dan nama perawan itu Maria. Dan ketika masuk, malaikat itu berkata kepadanya, "Salam, hai engkau yang dilimpahi anugerah {TB – “yang dikaruniai”; TL – “yang beroleh anugerah”}, Tuhan besertamu, hai engkau yang diberkati di antara para wanita! Namun setelah melihatnya, dia dibuat bingung oleh perkataannya itu dan dia bertanya-tanya apa maksud salam ini. Dan malaikat itu berkata kepadanya, "Jangan takut Maria, sebab engkau telah mendapat anugerah dari Allah. Dan lihatlah, engkau akan mengandung di dalam rahimmu, dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan engkau akan menyebut Nama-Nya YESUS." {Alkitab MILT 2008}
Kitab Suci Protestan Modern tidak menerjemahkan Lukas 1:28 “penuh rahmat”. Mereka menggunakan “yang dilimpahi anugerah” atau istilah yang mirip. Terjemahan Protestan ini salah. Ada beberapa cara yang mudah untuk menunjukkan bahwa mereka salah. Kata dalam bahasa Yunani ini adalah kecharitomene. Kata ini menyentuh secara langsung ide tentang “rahmat” atau “karunia”. Pelajar-pelajar bahasa Yunani menyataan bahwa kecharitomene berasal dari akar kata charis, yang memiliki arti harfiah "rahmat" atau “karunia” ("grace" dalam bahasa Inggris). 150 kali charis disebutkan di Kitab Suci King James Version (Kitab Suci Protestan) dan 129 kali charis diterjemahkan sebagai "rahmat" ("grace").
Penting untuk dicatat bahwa terjemahan-terjemahan Protestan awal atas Lukas 1:28 menggunakan “penuh rahmat” atau istilah lain yang mirip. Seorang Protestan yang terkenal bernama William Tyndale (1494-1536) dianggap sebagai pahlawan di antara orang Protestan. Versi Kitab Sucinya diterjemahkan dalam bahasa Inggris modern kira-kira tahun 1525. Tyndale menerjemahkan Lukas 1:28 seperti ini: “Hayle full of grace ye Lorde is with ye: blessed arte thou amonge wemen.” {“Salam engkau yang penuh rahmat, Tuhan besertamu: terberkatilah engkau di antara para wanita.”} (http://wesley.nnu.edu/biblical_studies/tyndale/) Thomas Cranmer, seorang Protestan Inggris (1489-1556) juga menerjemahkan ayat ini dengan “penuh rahmat”.
"Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah."
Apakah ini berarti bahwa Paulus semata-mata tidak lagi memiliki hati nurani yang murni setelah hari itu? Tentunya tidak.
Preposisi “sebelum” bisa digunakan dengan cara yang sama.
Yohanes 4:45- “…datanglah sebelum anakku mati."
Di sini kita melihat bahwa kata “sebelum” dapat digunakan dengan cara yang sama dengan kata “sampai”. Anak ini tidak mati; Yesus telah menyembuhkan mereka (Yohanes 4:50). Maka, pernyataan di Matius 1:18, yang dikutip di bawah, bahwa Maria memiliki anak “sebelum” ia dan Yosef hidup sebagai suami istri, tidak berarti bahwa mereka hidup sebagai suami isteri setelah ia memiliki anak. Hal ini hanya menyatakan bahwa ia mengandung tanpa hubungan badan.
Matius 1:18- “Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.”
kaupunyai beranak pertama kali, anak jantan yang sulung adalah bagi TUHAN."
Maka, pernyataan bahwa Yesus adalah “anak laki-laki sulung” dari Maria (Lukas 2:7) sama sekali tidak menentang bahwa Maria selamanya perawan. Ini hanya berarti bahwa Ia adalah anak pertama dan anak laki-laki Maria. Tidak ada pernyataan tentang apakah terdapat anak lain yang lahir setelahnya.
BAGAIMANA DENGAN “SAUDARA-SAUDARA” YESUS
Orang-orang non-Katolik sering menyebut-nyebut ayat-ayat di mana terdapat “saudara-saudari” Yesus. Pertama-tama, harus disebutkan bahwa Kitab Suci tidak pernah menyebutkan bahwa “saudara-saudara” Yesus ini adalah anak-anak dari Maria, bunda Yesus.
Markus 6:3- “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.”
Matius 13:55- “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?”
Di dalam bahasa Yunani, kata-kata yang digunakan adalah adelphoi (“saudara-saudara”) dan adelphe (“saudari-saudari”). Kata adelphoi dan adelphe dapat merujuk kepada saudara-saudara sekandung (dari satu ibu). Bagaimanapun, Kitab Suci juga menggunakan kata-kata ini untuk menggambarkan orang-orang yang bukanlah saudara-saudara seibu, tetapi sepupu, atau orang-orang yang memiliki hubungan darah, atau saudara-saudara angkat atau teman-teman dekat.
KITAB SUCI BERKATA BAHWA ABRAHAM ADALAH SAUDARA LOT, TETAPI IA BUKAN BENAR-BENAR SAUDARANYA
Lot adalah keponakan Abraham. Abraham adalah pamannya (bandingkan Kejadian 11:31; 14:12). Tetapi, Kitab Suci menjelaskan dua kali bahwa Lot adalah “saudara” Abraham. Hal ini disebabkan kata “saudara” bukan berarti adik atau kakak. Seperti yang dikatakan di atas, ini dapat berarti sepupu atau orang yang memiliki hubungan darah, atau adik/kakak angkat, atau teman dekat.
Kejadian 14:14- Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya {TL – saudaranya; MILT - saudaranya} tertawan...
Lot adalah keponakan Abraham
Kitab Suci juga menyebutnya sebagai “saudara” Abraham
Kejadian 11:27- “Inilah keturunan Terah. Terah memperanakkan Abram, Nahor dan Haran, dan Haran memperanakkan Lot.”
Kejadian 12:5- “…Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.”
Kejadian 14:12- “Juga Lot, anak saudara Abram, beserta harta bendanya, dibawa musuh, lalu mereka pergi--sebab Lot itu diam di Sodom.”
TB, TL, dan MILT menggunakan “anak saudara” pada Kejadian 12:5 dan Kejadian 14:12.
Kejadian 14:14- “Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan {TL- saudaranya; MILT – saudaranya ; ini merujuk kepada Lot}…”
Kejadian 14:16- “Dibawanyalah kembali segala harta benda itu; juga Lot, anak saudaranya {TL- Lut, saudaranya; MILT- Lot, saudaranya} itu…”
Beberapa orang Protestan mencoba menjawab ini dengan mengajukan bahwa Perjanjian Lama bukan ditulis dalam bahasa Yunani, melainkan Ibrani. Maka, mereka berkata, bahwa dalam kasus Lot, adelphos tidak bisa digunakan untuk kasus orang yang bukan saudara seibu. Ini dibantah dengan menjawab bahwa walaupun naskah orisinal Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, naskah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani oleh tujuh puluh pelajar beberapa abad sebelum kedatangan Kristus. Terjemahan yang terkenal ini dinamakan Septuaginta {Septuaginta berarti tujuh puluh, merujuk kepada jumlah penerjemah naskah orisinal Ibrani}.
Terjemahan bahasa Yunani dari Perjanjian Lama, atau Septuaginta, dikutip kira-kira 300 kali oleh penulis-penulis Perjanjian Baru yang diinspirasikan Tuhan. Ini berarti penulis-penulis Perjanjian Baru menerima Septuaginta. Di dalam Septuaginta, kata Yunani adelphos digunakan untuk menggambarkan Lot sebagai saudara Abraham. Adelphos adalah bentuk tunggal dari adelphoi, kata yang digunakan di dalam Perjanjian Baru untuk “saudara-saudara” Yesus. Maka, Perjanjian lama memang menggunakan adelphos untuk menggambarkan seseorang yang bukan secara harfiah adalah saudara seibu.
Tetapi poin ini juga dapat dibuktikan dari Perjanjian Baru. Di dalam Kisah Para Rasul 3:17 dan Roma 9:3, kita melihat bahwa adelphoi (saudara-saudara) juga digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang memiliki kebangsaan yang sama, yang bukanlah saudara seibu. Ayat-ayat ini mematikan argumen orang Protestan dalam kasus ini.
Terlebih lagi, di Lukas 10:29, Matius 5 :22 dan Matius 7:3, kita melihat bahwa adelphos ("saudara laki-laki”) digunakan untuk "sesama", dan bukan saudara seibu.
TETAPI TERDAPAT KATA DALAM BAHASA YUNANI UNTUK SEPUPU, ANEPSIOS ; JIKA SAUDARA-SAUDARA YESUS ADALAH SEPUPU, BUKANNYA SAUDARA-SAUDARA SEIBU, MENGAPA ANEPSIOS TIDAK DIGUNAKAN?
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria selamanya perawan dan tidak mempunyai anak-anak lain. Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa semua “saudara-saudara” Yesus adalah sepupu-sepupu-Nya. Mereka mungkin adalah saudara jauh atau teman-teman dekat, atau orang-orang yang dianggap bagian keluarganya lewat pernikahan atau hukum atau negara asal. Sebagai contoh, dalam 2 Samuel 1:26, Raja Daud memanggil Yonatan “saudaranya”. Yonatan dan Daud bukanlah saudara ataupun sepupu. Daud telah menikahi saudara perempuan Yohatan, Mikhal, anak perempuan Raja Saul. Maka Pernikahan Daud membuatnya masuk ke dalam keluarga Yonatan.
harus melihat bukti bahwa Maria tidak memiliki anak-anak lain dan bahwa ia selamanya perawan.
YOHANES 19:26 MEMBUKTIKAN BAHWA MARIA TIDAK MEMILIKI ANAK LAIN SELAIN YESUS
Sewaktu ia meninggal di kayu Salib, Yesus memercayakan ibu-Nya kepada St. Yohanes Rasul.
Yohanes 19:26-27- “Kemudian, ketika melihat ibu-Nya dan murid yang Dia kasihi sedang berdiri di dekat-Nya, YESUS berkata kepada ibu-Nya, "Hai wanita, lihatlah anakmu!" Sesudah itu Dia berkata kepada murid itu, "Lihatlah ibumu!" Dan sejak saat itu, murid itu [Yohanes] menerima dia ke rumahnya.” {Alkitab MILT 2008}
[19/1 10.34] RB Harsolaksono: Para pelajar menunjukkan bahwa ini adalah suatu tindakan pemercayaan (entrustment) yang formal. (Gerry Matatics, Op. cit.). Yesus memercayakan ibu-Nya kepada St. Yohanes supaya ia menjaga Maria. Jika Maria memiliki anak-anak yang lain, seperti apa yang para Protestan ajukan, Yesus tidak akan memberikan Bunda Maria kepada St. Yohanes sebagai ibundanya. Maria akan diberikan kepada salah satu dari sekian banyak “saudara-saudara-Nya.” Fakta bahwa Yesus memercayakan Maria kepada St. Yohanes membuktikan bahwa ia tidak memiliki anak-anak lain.
Orang-orang Protestan mencoba menjawab ini dengan berargumentasi bahwa “saudara-saudara” Yesus tidak beriman dan itulah mengapa Yesus memercayakan ibu-Nya kepada St. Yohanes. Tetapi hal ini dibantah oleh Kisah Para Rasul 1:14. Hal ini menunjukkan bahwa “saudara-saudara” Yesus adalah orang –orang beriman. Tentu saja Yesus tahu bahwa mereka adalah, atau akan menjadi orang-orang beriman, dan oleh karenanya, Ia tidak akan memercayakan Bunda Maria kepada St. Yohanes jika mereka adalah saudara-saudara kandungnya.
Adalah sesuatu yang penting, bahwa ketika Yesus ditemukan di Bait Suci pada saat Ia berumur 12 tahun, tidak ada indikasi sama sekali bahwa Maria dan Yosef memiliki anak-anak lain (Lukas 2:41-51). Indikasinya adalah bahwa Ia adalah anak tunggal. Ia juga disebut sebagai anak Maria (Markus 6:3), bukan salah satu anak dari Maria. Tidak pernah dikatakan bahwa Maria memiliki anak-anak lain.
JAWABAN MARIA KEPADA MALAIKAT DI LUKAS 1 MENANDAKAN BAHWA IA TELAH MENGAMBIL SUMPAH KEPERAWANAN
Lukas 1:30-34- “Dan malaikat itu berkata kepadanya, "Jangan takut Maria, sebab engkau telah mendapat anugerah dari Allah. Dan lihatlah, engkau akan mengandung di dalam rahimmu, dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan engkau akan menyebut Nama-Nya YESUS. Dia akan menjadi besar dan akan disebut Putra Yang Mahatinggi, dan Tuhan, Allah, akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, leluhur-Nya. Dan Dia akan memerintah atas keturunan Yakub sampai selamanya, dan kerajaan-Nya tidak akan berakhir." Dan Maria berkata kepada malaikat itu, "Bagaimana hal ini akan terjadi karena aku belum mengenal laki-laki?" {Alkitab MILT 2008}
Malaikat muncul kepada Maria dan berkata bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak. Maria menjawab ini dengan berkata: “Bagaimana hal ini akan terjadi, karena aku belum mengenal laki-laki? Arti sesungguhnya adalah: bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku adalah perawan. Bagaimana itu bisa terjadi? Maria mengerti bagaimana anak-anak dikandung. Jawabannya hanyalah masuk akal bila ia telah mengambil sumpah keperawanan. Ia bertanya bagaimana ia bisa mengandung sebagai perawan.
Harus ditunjukkan bahwa pertunangan Maria kepada Yosef tidak berlawanan dengan ide bawa ia telah mengambil sumpah tersebut. Tindakan moral pada saat itu mendiktekan bahwa wanita yang telah berkomitmen menjadi perawan memiliki pelindung laki-laki yang akan menjaga dan menghormati sumpah tersebut. Itu adalah peran Yosef.
TIDAK DAPAT DIBAYANGKAN BAHWA TABUT PERJANJIAN BARU MENJALANKAN HUBUNGAN BADANIAH
Kita telah melihat bahwa Kitab Suci dengan jelas mengajarkan bahwa Maria adalah Tabut Perjanjian Baru. Sebagai makhluk paling suci di Bumi, dan sebagai bahtera yang menampung Yang Maha Tinggi, sangatlah tidak pantas – berlawanan dengan menjaga martabat sang Tabut dan peranannya – untuk berpikir bahwa ia menjalankan hubungan badaniah apa pun. Untuk menyiapkan umat-umat Allah untuk kedatangan-Nya di Gunung Sinai, Musa berkata:
Keluaran 19:14-15- “Lalu turunlah Musa dari gunung mendapatkan bangsa itu; disuruhnyalah bangsa itu menguduskan diri dan merekapun mencuci pakaiannya. Maka kata Musa kepada bangsa itu: "Bersiaplah menjelang hari yang ketiga, dan janganlah kamu bersetubuh dengan perempuan."
Sewaktu Daud melarikan diri dan memerlukan roti dari seorang imam, kita membaca:
1 Samuel 21:4- “Lalu jawab imam itu kepada Daud: "Tidak ada roti biasa padaku, hanya roti kudus yang ada; asal saja orang-orangmu itu menjaga diri terhadap perempuan."
Tabut Perjanjian telah diciptakan untuk alasan yang lebih mengagumkan dan suci, dan tidak akan melakukan hubungan badaniah. Uza dibunuh hanya karena ia menyentuh Tabut Perjanjian sewaktu ia tidak seharusnya melakukannya (2 Samuel 6:6-8).
YEHEZKIEL 44 DAN NUBUAT TENTANG PINTU GERBANG YANG TERTUTUP ADALAH TENTANG BAGAIMANA MARIA SELAMANYA PERAWAN
Yehezkiel 44:2- “Lalu TUHAN berfirman kepadaku: "Pintu gerbang ini harus tetap tertutup, jangan dibuka dan jangan seorangpun masuk dari situ, sebab TUHAN, Allah Israel, sudah masuk melaluinya; karena itu gerbang itu harus tetap tertutup.”
Di sini kita melihat bahwa Tuhan akan melewati pintu gerbang ini, dan tiada orang lain yang bisa melewatinya.
Ini adalah nubuat tentang keperawanan kekal Maria. Ia adalah pintu gerbang yang tertutup, yang Tuhan lewati. Itulah salah satu alasan bahwa Maria telah disebut “Pintu Gerbang Surga” di dalam tulisan-tulisan Katolik tradisional.
GEREJA KATOLIK KUNO SANGAT PERCAYA BAHWA MARIA SELAMANYA PERAWAN
Konsili Konstantinopel Kedua, 553 Masehi, Kanon 6- “Jika seseorang berkata bahwa Maria yang suci, agung dan selamanya perawan disebut sebagai Bunda Allah lewat penyalahgunaan bahasa dan bukan secara sejati… terkutuklah dia.”
Beberapa orang-orang Protestan dan kebanyakan anggota Gereja “Ortodoks” menyatakan bahwa mereka menghormati Konsili Konstantinopel Kedua. Ini adalah konsili ekumenis yang kelima. Seperti yang kita lihat di sini, konsili ini benar-benar mengajarkan keperawanan kekal Maria.
Paus St. Martinus I, Konsili Lateran, 649 Masehi., Kanon 3- “Jika seseorang tidak secara layak dan benar-benar mengakui bahwa ia setuju dengan Bapa-Bapa suci, bahwa Maria, Bunda Allah yang kudus dan selamanya Perawan serta tanpa noda, pada zaman yang terdahulu telah mengandung dari Roh Kudus tanpa benih {hubungan badan}, yakni, Allah sang Sabda sendiri, yaitu yang dilahirkan dari Allah Bapa sebelum segala zaman, dan bahwa ia mengandung-Nya tanpa noda, dengan keperawanannya yang tetap tidak terhancurkan bahkan setelah kelahiran-Nya, terkutuklah dia.” (Denzinger 256)
sang Ratu bersama-Nya.
Mazmur 45:6, 9- “Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanmu adalah tongkat kebenaran... di sebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir.”
APAKAH DOA SALAM MARIA DAN ROSARIO “DOA YANG BERTELE-TELE” YANG DILARANG OLEH TUHAN YESUS?
Beberapa non-Katolik menggugat bahwa doa-doa Katolik seperti Salam Maria dan Rosario dikutuk oleh Yesus.
Matius 6:7-8- “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele {TL – mengulang-ulangi perkataan} seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.”
Seperti bantahan-bantahan lain yang kita telah jelaskan, bantahan ini disangkal oleh pertimbangan yang lebih dalam di dalam Kitab Suci. Mungkin ini adalah contoh terbaik untuk melawan bantahan Protestan untuk hal ini: Wahyu 4:8.
Wahyu 4:8- “Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.”
Malaikat-malaikat di Surga mengulang-ulang tanpa henti “Kudus, kudus, kudus.” Ini membantah ide bahwa doa yang berulang-ulang adalah dari orang yang “tidak mengenal Allah”. Pernyataan ini tidak bisa lebih salah lagi.
Pada Matius 6:7, Yesus tidak melarang doa-doa yang berisi kata-kata yang diulangi; tidak pun Ia melarang beberapa ulangan dari doa yang sama (misalkan, berdoa Bapa Kami atau Salam Maria lima kali berturut-turut). Tidak, Ia melarang praktik orang-orang kafir. Orang-orang kafir berpikir bahwa mereka bisa menyenangkan dewa-dewa sesat mereka lewat kata-kata mereka yang mengalir dan rumit. Mereka berpikir bahwa mereka harus selalu mengatakan hal-hal dan nama-nama dengan benar pada hari-hari tertentu karena takut bahwa berhala-berhala mereka tidak dapat mendengar mereka atau mengingat kebutuhan mereka. Yesus mengutuk kekafiran mereka. Ia mengajarkan bahwa Allah yang benar mengetahui segala hal.
Ada hal-hal lain yang menghancurkan bantahan Protestan tentang hal ini. Pada Mazmur 136 (Mazmur 135 di Kitab Suci Douay-Rheims), kita diberikan doa pujian dan syukur yang mengulangi kalimat yang sama – “bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” – yang berjumlah 26 kali berturut-turut!
Mazmur 136:1-26- “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya... [dst.]”
Yesus mengulangi doa yang sama tiga kali berturut-turut, sewaktu Ia berdoa kepada Bapa-Nya di Taman Gethsemani. Hal ini bisa dibaca di Matius 26:39, Matius 26:42, dan Matius 26:44. Di Matius 20:29-33, Yesus menjawab doa yang berulang-ulang dari orang-orang buta yang memohon belas kasihan-Nya.
Seperti yang kita lihat, Kitab Suci memiliki banyak contoh di mana doa-doa kepada Allah yang benar diulang-ulang. Hal ini bukanlah doa yang “bertele-tele” dari orang kafir atau mereka yang tidak mengenal Allah. Faktanya, doa-doa Gereja Katolik kepada Maria di dalam Salam Maria dan Rosario dinubuatkan oleh Maria sendiri pada Lukas 1:
Doa Salam Maria: “Salam Maria, penuh rahmat; Tuhan sertamu. Terpujilah {terberkatilah} engkau di antara wanita, dan terpujilah {terberkatilah} buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin”
Lukas 1:46-48- “Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia {kata Yunani untuk “berbahagia” adalah “μακαρίζω” dibaca “makarizó”, yang berarti “terberkati”}...”
Tentu saja, hanya Gereja Katolik yang memenuhi nubuat ini, yang adalah tentang seluruh keturunan dari Gereja yang benar.
HATI MARIA YANG UNIK DAN TIDAK BERNODA MENERIMA PERHATIAN YANG KHUSUS DI DALAM KITAB SUCI
Gereja Katolik menghormati dan menyebarkan devosi kepada hati Maria yang tak bernoda. Ia memiliki hati yang paling murni dari semua umat manusia yang telah hidup. Seperti halnya Tabut Perjanjian Lama, devosi kepada hati tak bernoda Maria kuat bersama Tuhan. Beberapa non-Katolik melarang devosi ini karena mereka menganggap bahwa hal ini tidak berdasarkan Kitab Suci. Berlawanan dengan gugatan mereka, hanya hati Marialah yang secara spesifik disebut di dalam Perjanjian baru. Tidak ada hati orang yang baik atau kudus lain yang menerima perhatian yang diberikan kepada hati Maria di dalam Kitab Suci. Hatinya unik dari antara segala umat manusia karena Maria tidak pernah dinodai dosa.
Lukas 2:18-19- “Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.”
Lukas 2:51- “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.”
Jiwa Maria yang unik disebut secara khusus oleh Kitab Suci.
Lukas 2:35- “--dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”
[19/1 10.37] RB Harsolaksono: MARIA ADALAH BUNDA ALLAH
Adalah hal yang mengagetkan bahwa banyak non-Katolik memperdebatkan gelar “Maria, Bunda Allah”. Mereka mengakui bahwa Maria adalah bunda Yesus, tetapi mengedepankan bahwa ia tidak boleh dianggap “Bunda Allah”. Orang-orang Protestan yang percaya bahwa Maria bukanlah bunda Allah sepertinya tidak menyadari bahwa hal tersebut tidaklah konsisten secara logika: untuk percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, tetapi untuk menolak bahwa Maria adalah bunda Allah. Posisi ini sebetulnya menolak keilahian Yesus Kristus, yang adalah satu pribadi Allah dengan dua kodrat.
Fakta: Yesus Kristus adalah Allah. Kitab Suci mengajarkan hal ini di banyak tempat (Yohanes 1:1; Yohanes 20:28; Yohanes 8:58; Yesaya 9:6; dsb.)
Fakta: Maria adalah bunda Yesus. Kitab Suci mengajarkan hal ini di banyak tempat (Lukas 1:31; Matius 1:25, dsb.)
Kesimpulan tak terbantahkan: Maria adalah bunda Allah.
Lukas 1:31-32- “Sesungguhnya engkau [Maria] akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya...”
lakukan sewaktu mereka menolak bahwa Maria adalah bunda Allah – hal ini menyebabkan pembagian Yesus menjadi dua pribadi yang berbeda.
Pada abad kelima, ada seorang bidah yang bernama Nestorius. Ia berargumentasi seperti orang-orang Protestan zaman sekarang tentang hal ini. Ia berargumentasi bahwa Maria tidak seharusnya disebut Theotokos (bunda/yang mengandung Allah), tetapi hanya Christotokos (yang mengandung Kristus). Gereja langsung mengenali bidah Nestorius dan mengutuk/melarang ajaran tersebut pada tahun 431 pada Konsili Efesus. Pandangan sesat Nestorius diakui oleh Gereja sebagai bidah yang dikutuk Kitab Suci karena ia “melarutkan” Yesus dan yang adalah “antikristus”. Ide sesat ini “melarutkan” Kristus dengan cara memisahkan dari satu pribadi-Nya hal yang berkaitan dengan kodrat manusiawi-Nya. Hal ini menyebabkan pembagian pribadi Yesus menjadi dua pribadi, dan menghasilkan posisi bahwa Yesus hanyalah seorang manusia yang membawa (atau terinspirasi) oleh satu pribadi Allah, dan bukan pribadi Allah yang benar-benar menjadi manusia.
Bidah ini menyebabkan pemujaan seorang manusia dan pemujaan dua putra. Gereja secara jelas melihat ini terang-terangan dan melarangnya.
Konsili Konstantinopel II, 553- “Sinode kudus Efesus... telah menyatakan hukuman untuk bidah Nestorius... dan mereka semua yang mungkin kemudian... memercayai pendapat-pendapat yang sama seperti yang dipercayainya... Mereka mengungkapkan kesesatan-kesesatan ini melawan dogma-dogma Gereja, MEMPERSEMBAHKAN PENYEMBAHAN TERHADAP DUA PUTRA, mencoba untuk membagi sesuatu yang tidak bisa dibagi, DAN MEMPERKENALKAN KEPADA SURGA DAN BUMI KEJAHATAN YAITU PENYEMBAHAN TERHADAP MANUSIA. Tetapi pasukan roh-roh ilahi yang kudus bersama kami hanya menyembah satu Tuhan Yesus Kristus.”
Konsili Efesus, 431, Kanon 5: “Jika seseorang berani berkata bahwa Yesus adalah manusia yang membawa Allah dan bukanlah Allah sesungguhnya, karena sifat satu Putra, bahkan sebagai “Firman yang telah menjadi daging”, dan memiliki darah dan daging sama seperti kita, terkutuklah dia.
Yesus bukanlah dua orang yang berbeda. Ia adalah SATU PRIBADI ALLAH dengan dua kodrat. Dengan demikian, sesuatu yang terjadi kepada kodrat manusiawi-Nya benar-benar terjadi kepada satu pribadi tersebut. Pribadi-Nya dikandung dan dilahirkan dalam kemanusiaan-Nya dari Maria. Maka Maria benar-benar adalah bunda-Nya, dan bunda Allah.
Arti yang tersimpan dari kebenaran ini sangatlah mengagetkan. Seperti yang Gereja telah selalu ajarkan, Putra Allah, yang kekal dan setara dengan Allah Bapa, memiliki dua kelahiran. Ia telah dilahirkan sebelum waktu diciptakan, dan dari segala zaman, dari Allah Bapa (Yohanes 16:28; Yohanes 8:42). Ia dilahirkan di bawah suatu kurun waktu sebagai manusia dari Maria, ibunda-Nya. Hanyalah Maria yang memiliki hubungan yang unik dengan Allah, kepada satu pribadi Allah Tritunggal. Dari kebenaran inilah Maria benar-benar adalah Bunda Allah, yang memberikan kepadanya semua hak dan kehormatan istimewa.
KESIMPULAN DARI AJARAN KITAB SUCI TENTANG MARIA
Ini adalah alasan-alasan dari Kitab Suci mengapa Gereja Katolik selalu mengakui pentingnya dan perlunya devosi kepada Perawan Maria yang Terberkati. Ia adalah Hawa yang baru, Tabut Perjanjian yang baru, bejana yang murni, pintu gerbang yang tertutup, dan Bunda Allah. Orang yang tidak berdevosi kepadanya sama seperti seseorang di Perjanjian Lama yang menolak untuk menghormati Tabut Perjanjian atau yang menolak berjalan di belakang Tabut Perjanjian dalam sebuah perang. Orang tersebut akan jatuh sebagai mangsa musuh-musuh Tuhan dan akan terpisahkan dari kemah umat-umat Allah.
1 Samuel 4:22- “...Telah lenyap kemuliaan dari Israel, sebab tabut Allah telah dirampas.”
Catatan kaki:
[1] {…antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya* akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya**. Di dalam bahasa Inggris, terdapat perbedaan terjemahan antara terjemahan Katolik dan Protestan. Terjemahan Katolik bahasa Inggris untuk keturunannya* adalah “she“ (kata ganti orang ketiga tunggal perempuan) di mana di sini sang wanita (Maria) adalah yang akan meremukkan kepala ular ; dan “her heel“ untuk tumitnya** ("her" adalah kata sifat kepunyaan seorang perempuan) di mana ular akan meremukkan tumit sang perempuan (Maria). Dalam terjemahan-terjemahan Protestan dalam bahasa Inggris, salah satunya 1611 King James Version, keturunannya* dibahasakan dengan "he" (kata ganti orang ketiga tunggal laki-laki) di mana di sini Kristus adalah yang akan meremukkan kepala ular ; dan "his heel" ("his" adalah kata sifat kepunyaan oleh seorang laki-laki) untuk tumitnya** yang berarti tumit Kristus-lah yang ular akan remukkan.} Perbedaan terjemahan Katolik dan Protestan ini disebabkan oleh ketidakjelasan di naskah-naskah Ibrani Perjanjian Lama yang menjadi perdebatan di antara pelajar-pelajar. Bagaimanapun, kebanyakan bapa-bapa gereja setuju dengan ajaran Katolik tradisional yang menyebut bahwa Marialah yang akan meremukkan kepala ular. Tetapi, jikapun seseorang mencoba memberikan kelonggaran untuk argumen dengan mengemukakan bahwa argumen Protestan benar, poin tentang Maria yang adalah “perempuan” yang bermusuhan dengan ular tetaplah berdiri dengan tegak; karena orang-orang Protestan menerjemahkan bagian pertama dari ayat ini dalam pandangan yang sama dengan umat Katolik.
Komentar
Posting Komentar